Pandangan dovish Jerome Powell tersebut dipengaruhi dari perkembangan beberapa indikator makro ekonomi yang dijadikan acuan dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Beberapa indikator yang digunakan adalah tingkat inflasi dan pertumbuhan sektor tenaga kerja, yang keduanya menunjukan trend penurunan.
Sejak pertemuan tersebut imbal hasil obligasi milik pemerintah AS (US Treasury) mengalami penurunan, yang mengindikasikan terjadi kenaikan dari sisi harga. Begitu juga terhadap pergerakan mata uang USD, yang mengalami pelemahan, terhadap mayoritas mata uang global, termasuk mata uang Rupiah, terlihat dari pergerakan indeks mata uang USD atau DXY.
Grafik Imbal Hasil UST dan DXY sejak awal bulan Agustus 2024

Sumber: Bloomberg, diolah
Dengan penguatan yang terjadi pada mata uang Rupiah, berimplikasi positif terhadap premi risiko atau CDS (Credit Default Swap) milik pemerintah RI. Sehingga, dengan turunnya imbal hasil UST dan level CDS, meningkatkan minat investor terhadap intrumen obligasi pemerintah RI dalam mata uang USD (Obligasi Indon).
Maka, potensi berlanjutnya pemangkasan suku bunga yang akan dilakukan bank sentral Fed, dapat menekan pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah RI dalam mata uang USD.
Tertarik untuk berinvestasi di obligasi Indon? Lakukan sekarang di OCBC Mobile. Berikut langkah-langkahnya:

- Buka dan login aplikasi OCBC Mobile
- Tekan menu “Investasi”
- Tekan menu “Obligasi Pasar Sekunder”, kemudian buat ID Investasi/ Single Investor Identification (SID)
- Pilih obligasi Indon yang sesuai dengan kebutuhan investasi kamu.
- Ikuti langkah selanjutnya untuk proses transaksi pembelian.
Akumulasi obligasi sekunder di OCBC Mobile dan dapatkan promo menarik (S&K berlaku). Info lebih lanjut, klik tautan berikut https://www.ocbc.id/promo/2024/05/03/cash-rebate-obligasi