Individu

Krisis Moneter 2008, Kronologi & Cara Indonesia Mengatasinya

8 Feb 2023 • Ditulis oleh: Redaksi OCBC

Bagikan Ke

Artikel Card Image
Promo Card Image

Krisis moneter 2008 yang terjadi secara global sebenarnya sudah bisa diindikasikan sejak satu tahun sebelumnya.

Hal tersebut dinyatakan oleh Bank Indonesia, di mana BNP Paribas Prancis pada 9 Agustus 2007 menyatakan ketidaksanggupannya untuk mencairkan sekuritas yang berkaitan dengan subprime mortgage dari Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut memicu terjadinya krisis yang selanjutnya diperluas dengan memburuknya likuiditas di berbagai negara.

Lantas, bagaimana dampak krisis moneter 2008 di Indonesia? Yuk, simak ulasan lengkapnya pada artikel ini.

Kronologi Krisis Moneter 2008

Subprime mortgage adalah istilah untuk kredit perumahan yang diberikan kepada debitur dengan riwayat kredit buruk atau belum pernah melakukan peminjaman, sehingga digolongkan sebagai kredit berisiko tinggi.

Penyaluran subprime mortgage di Amerika Serikat mengalami peningkatan pesat sebesar US$ 200 miliar pada 2002 hingga US$ 500 miliar di tahun 2005.

Meskipun pemicu utama terjadinya krisis moneter 2008 adalah subprime mortgage, namun sebenarnya jumlahnya relatif kecil dibandingkan seluruh kerugian yang akhirnya dialami perekonomian negara.

Kerugian besar yang terjadi dalam krisis ekonomi ini sebenarnya terjadi karena praktik pengemasan subprime mortgage tersebut ke dalam bentuk sekuritas lain dan diperdagangkan secara global.

Puncaknya adalah pada 15 September di mana Lehman Brothers mendaftarkan kebangkrutannya dan menyusul kegagalan di pasar subprime mortgage.

Lehman diketahui telah mengalami kerugian mencapai US$ 60 miliar karena eksposur di pasar subprime mortgage.

Hal tersebut membuat pasar finansial dunia dilanda kepanikan dan indeks Dow Jones ditutup merosot hingga 504,48 poin.

Harga minyak juga ikut terdampak dan turun di bawah US$ 100 per barel. Sementara emas sebagai safe haven langsung meningkat menjadi US$ 787 per ons.

Krisis subprime mortgage sangat cepat menyebar hingga lintas sektoral dan lintas negara karena pemegang mortgage backed securities (MBS) tersebar luar di berbagai belahan dunia.

Krisis moneter 2008 adalah permasalahan perekonomian paling buruk setelah Depresi Besar.

Pasar saham Amerika Serikat menurun drastis dengan nilai yang tersapu akibat krisis mencapai 8 triliun selama periode 2007-2009.

Krisis moneter 2008 juga menyebabkan pengangguran terus meningkat hingga mencapai 10 persen pada Oktober 2009.

Baca juga: 5 Cara Menghadapi Resesi Ekonomi dan Ancaman Jangka Panjangnya

Dampak Krisis Moneter 2008 ke Indonesia

Krisis perekonomian pada tahun 2008 juga memberikan dampak yang signifikan di negara Indonesia, di antaranya:

1. Penurunan IHSG

Krisis moneter 2008 menyebabkan dana-dana asing keluar dan menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam.

BEI bahkan harus melakukan suspensi perdagangan pada 9 dan 10 Oktober 2008 untuk memberikan jeda kepada investor agar bisa lebih rasional di tengah gejolak krisis keuangan.

Pada saat krisis Lehman Brothers tersebar, IHSG menurun hingga 50 persen lebih rendah dari sebelumnya pada akhir tahun 2008.

2. Tekanan di Pasar Obligasi

Krisis moneter 2008 juga menyebabkan kinerja pasar obligasi melemah dan mencapai puncaknya pada bulan Oktober dengan harga rata-rata terkoreksi hingga 27,4 persen.

Selain itu, harga surat utang Indonesia juga menurun drastis, dengan imbal hasil melonjak sekitar 10 persen menjadi 17 persen.

Baca juga: 7 Cara Menabung Emas di Rumah, Lebih Praktis dan Aman!

3. Krisis Likuiditas pada Perbankan

Sektor perbankan merupakan titik rawan ketika terjadi krisis, mereka mengalami krisis finansial terutama pada likuiditas.

Bank BUMN masih cukup beruntung karena pemerintah menginjeksikan Rp15 triliun dana ke 3 lembaga keuangan milik negara tersebut.

Namun, bank-bank swasta menengah dan kecil dengan likuiditas terbatas mengalami kesulitan pada saat krisis moneter 2008.

Mereka hanya mengandalkan pinjaman di pasar uang antar bank, keadaan likuiditas yang ketat membuatnya sulit, sedangkan bank besar memilih menjaga likuiditas.

Situasi perekonomian tersebut juga semakin sulit karena tidak diberlakukannya peminjaman dana nasabah.

Pemerintah hanya membuat keputusan dengan menaikkan penjamin oleh LPS dari simpanan maksimal Rp100 juta menjadi Rp2 miliar.

Cara Pemerintah Mengatasi Krisis Moneter 2008

Krisis moneter 2008 memang mengguncang perekonomian Indonesia. Namun, dampaknya tidak berkepanjangan seperti pada tahun 1998.

Pemerintah dan Bank Indonesia lebih kompak untuk menghadapi krisis karena telah berkaca langsung pada pengalaman sebelumnya.

Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang pada Oktober 2008 dan dijabarkan sebagai berikut.

  • Perppu 2/2008 untuk memperketat fungsi lender of the last resort BI dengan memperluas aset yang bisa dijadikan agunan oleh bank untuk mendapatkan pinjaman.
  • Perppu 3/2008 untuk memperkuat peran LPS di masa krisis.
  • Perppu 4/2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) menetapkan mekanisme, tata cara, dan koordinasi antar lembaga untuk mencegah serta menangani krisis.

Bapepam-LK (sekarang OJK) juga mengeluarkan aturan untuk memudahkan emiten melakukan buyback. Sementara BEI melarang transaksi short selling dan membatasi perdagangan marjin.

Hal ini bertujuan untuk mengurangi aksi jual di saat terjadi penurunan harga sebagai upaya meredam volatilitas di pasar saham.

Untuk mengatasi ketatnya likuiditas, bank menghapus pembatasan saldo harian pinjaman valuta asing jangka pendek dan tenor fasilitas swap untuk memperoleh likuiditas diperpanjang dari 7 hari menjadi 1 bulan.

Upaya-upaya tersebut membuat krisis moneter 2008 hanya berdampak sesaat di Indonesia. Pada semester kedua tahun 2009, tanda-tanda pemulihan ekonomi sudah mulai nampak.

Selanjutnya, pada tahun 2010 perekonomian sudah pulih dan ditandai dengan pertumbuhannya yang positif mencapai angka 5 persen.

Itu dia penjelasan seputar krisis moneter 2008 yang berdampak di Indonesia dan cara pemerintah mengatasinya.

Krisis perekonomian pada tahun 2008 tidak memberikan dampak yang berkepanjangan di Indonesia karena pemerintah telah memahami cara memahaminya secara tepat.

Hal ini membuat pertumbuhan perekonomian Indonesia bisa pulih dengan cepat pada jangka waktu satu tahun.

Semoga informasinya bermanfaat! Simak lebih banyak artikel seputar finansial dan bisnis hanya di Blog OCBC.

Baca juga: Apa Saja Investasi Menghadapi Resesi yang Aman dan Tepat?

Bagikan Artikel Ini?

Produk Terkait

Individu

Individu

Solusi perbankan OCBC siap bantu kamu penuhi semua aspirasi dalam hidup #TAYTB

Segala Kemudahan Ada
di Satu Genggaman

Nikmati berbagai layanan kartu OCBC sesuai kebutuhan Anda

Artikel Terbaru

Punya Rumah Idaman Bukan Cuma Mimpi, Dapatkan Sekarang!
  • Individu

Punya Rumah Idaman Bukan Cuma Mimpi, Dapatkan Sekarang!

12 Jun 2026
Para generasi Milenial dan Gen Z yang sekarang sedang merintis karir sering kali dipusingkan oleh himpitan beban keuangan atau disebut juga “sandwich generation”.
Bangun Financial Wellness dengan Pengalaman Berinvestasi yang Lebih Praktis
  • Individu

Bangun Financial Wellness dengan Pengalaman Berinvestasi yang Lebih Praktis

11 Jun 2026
Berinvestasi telah menjadi bagian penting dalam mengelola keuangan di masa kini. Semakin banyak orang menyadari bahwa mengelola keuangan tidak cukup hanya dengan menabung, tetapi juga perlu mempersiapkan masa depan melalui investasi yang terencana.
Investasi Reksa Dana Pendapatan Tetap ditengah Ketidakpastian Ekonomi
  • Individu
  • Wealth Insight

Investasi Reksa Dana Pendapatan Tetap ditengah Ketidakpastian Ekonomi

11 Jun 2026
Dalam melakukan investasi, tentunya ada berbagai macam jenis instrumen yang dapat dijadikan referensi. Salah satunya adalah reksa dana pendalatan tetap, yang memiliki underlying investasi pada surat hutang atau obligasi, baik itu obligasi pemerintah maupun obligasi korporasi.
Dari Transaksi hingga Investasi, Kelola Keuangan Lebih Praktis dalam Satu Aplikasi
  • Individu

Dari Transaksi hingga Investasi, Kelola Keuangan Lebih Praktis dalam Satu Aplikasi

11 Jun 2026
Di tengah gaya hidup yang semakin dinamis, kebutuhan finansial pun menjadi semakin beragam. Mulai dari transaksi sehari-hari, pembayaran tagihan, menabung, hingga investasi, semuanya menjadi bagian dari aktivitas yang perlu dikelola dengan baik.

Kemudahan Transaksi Perbankan di Ujung Jari

Download OCBC mobile sekarang!