Apa itu Perusahaan Startup? Ini Ciri, Sejarah, dan Contohnya

19 Mei 2023

Perusahaan startup adalah badan usaha yang masih belum lama beroperasi. Simak!

Perusahaan startup adalah salah satu contoh bisnis yang menunjukkan pesatnya perkembangan ekonomi digital dalam beberapa tahun terakhir.

Tak dapat dipungkiri, perusahaan ini bisa dibilang mampu mengiringi pertumbuhan teknologi informasi yang begitu cepat.

Namun, yang sering menjadi pertanyaan, apa perbedaan startup dengan perusahaan konvensional lainnya?

Agar tidak bingung, yuk langsung simak selengkapnya mengenai sejarah perkembangan hingga contoh perusahaan startup di Indonesia berikut ini!

Apa itu Perusahaan startup?

Akhir-akhir ini, banyak perusahaan startup yang berdiri di Indonesia. Mungkin Sobat OCBC NISP juga sudah tidak asing lagi dengan jenis perusahaan ini.

Sebetulnya, apa itu perusahaan startup? Perusahaan startup adalah badan usaha rintisan yang baru saja berjalan dan berfokus pada pencarian serta pengembangan target pasar.

Dengan kata lain, perusahaan startup adalah perusahaan rintisan yang sedang dalam pengembangan.

Sejak tahun 1990-an akhir hingga 2000-an, perusahaan startup ini sering dikaitkan dengan internet, aplikasi, dan juga teknologi terbaru.

Oleh karena itu, pengertian startup mengalami pergeseran menjadi perusahaan baru yang mengadopsi inovasi teknologi dalam menjalankan bisnisnya.

Hal ini didukung dengan banyaknya perusahaan rintisan berbasis teknologi yang bergerak di berbagai bidang, seperti properti, pendidikan, kesehatan, dan bahkan hiburan.

Ciri-Ciri Perusahaan startup

Untuk memahami perusahaan startup lebih jauh, berikut ini ciri-ciri yang perlu Sobat OCBC NISP ketahui, di antaranya yaitu:

1. Usia Bisnis Kurang dari 3 Tahun

Mengingat perusahaan startup adalah badan usaha yang baru dirintis, usia bisnisnya biasanya kurang dari 3 tahun.

Di usia ini, perusahaan berfokus untuk mengembangkan bisnis dan mencari target pasar yang sesuai agar lebih stabil.

Baca juga: Apa itu Unicorn? Ini Dia Beberapa Contoh startup Unicorn

2. Inovatif & Disruptif

Ciri selanjutnya dari perusahaan startup adalah inovatif dan disruptif untuk mendukung perkembangan serta menemukan pasar baru.

Jadi, perusahaan biasanya lebih memberikan kesempatan pada karyawannya untuk berinovasi dan berkontribusi lebih.

3. Berkaitan dengan Teknologi

Sesuai dengan yang telah dijelaskan sebelumnya, perusahaan startup sering dikaitkan dengan inovasi teknologi.

Sebab, sebagian besar perusahaan startup adalah badan usaha yang memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menjalankan bisnisnya.

Misalnya, pemasarannya dilakukan secara online, memiliki website dan juga aplikasi yang memudahkan pengguna untuk mengakses layanan dari perusahaan.

4. Bersifat Fleksibel

Selain sebagai media pemasaran, perusahaan startup juga mengadopsi teknologi untuk diimplementasikan dalam budaya kerja.

Hal ini menjadikan budaya di perusahaan startup lebih fleksibel karena kerja karyawannya memanfaatkan kecanggihan teknologi.

Misalnya, kerja tidak lagi harus ke kantor karena bisa remote dan berkomunikasi menggunakan berbagai platform.

5. Jumlah Karyawan Relatif Sedikit

Selanjutnya, ciri-ciri perusahaan startup adalah jumlah karyawannya yang relatif sedikit, yaitu kurang lebih 20 orang.

Di masa awal pendiriannya, perusahaan startup lebih fokus untuk mengembangkan bisnis daripada menambah jumlah karyawannya.

6. Terdapat Investor

Biasanya, founder perusahaan startup akan membiayai semua kegiatan operasionalnya terlebih dahulu. Kemudian, pemilik akan mencari investor untuk pendanaan lanjutan.

Oleh karena itu, salah satu ciri dari perusahaan startup adalah adanya investor yang menanamkan modal.

Baca juga: Sering Dikira Sama, Inilah Perbedaan Antara UMKM dan startup

Sejarah Perkembangan startup

Hingga banyak startup yang berdiri saat ini, sebetulnya bagaimana sejarah perkembangannya?

Awalnya, perusahaan startup mulai dikenal pada tahun 1998 hingga 2000 di Amerika Serikat.

Pada waktu itu, eksistensi internet sedang berada di puncak dan dinilai menjanjikan untuk masa depan, sehingga banyak perusahaan berbasis teknologi yang berdiri.

Untuk menguatkan identitas startup, banyak perusahaan yang menggunakan nama dengan awalan E atau akhiran dot-com.

Akhirnya, muncullah fenomena gelembung dot-com di Amerika Serikat. Hal ini tentu memicu timbulnya persaingan yang kuat antar perusahaan.

Nah, sebagai salah satu strategi agar tetap eksis dan bisa dikenal oleh khalayak umum, perusahaan mulai membakar uang untuk memasang iklan, memberikan promo, dan bahkan layanan gratis.

Sayangnya, strategi ini tidak memberikan dampak baik dan justru membuat banyak perusahaan startup yang bangkrut.

Namun, tidak butuh waktu lama, perusahaan startup kembali muncul dan berkembang pesat bahkan hingga ke negara lain, termasuk Indonesia.

Perusahaan startup di Indonesia sendiri mulai berkembang seiring dengan meningkatnya penggunaan internet dan digital.

Ke depannya, perusahaan startup di Indonesia diprediksi dapat menyumbang pertumbuhan ekonomi digital lebih tinggi.

Bahkan, jika perusahaan memiliki strategi bisnis yang matang, eksistensinya juga akan semakin kuat di pasar.

Tak hanya untuk pelanggan, arah bisnis startup ke depannya juga diprediksi masuk ke ranah business to business (B2B).

Perbedaan startup dan Perusahaan Konvensional

Secara umum, perusahaan startup tidak jauh berbeda dengan yang konvensional. Meski demikian, terdapat beberapa aspek yang membedakan keduanya.

Adapun pembeda badan usaha konvensional dan perusahaan startup adalah sebagai berikut:

1. Struktur Organisasi

Struktur organisasi merupakan pembeda yang jelas antara perusahaan startup dan konvensional.

Dalam perusahaan startup, pihak yang memiliki kontrol atas kegiatan operasional dan bisnis adalah founder serta pihak manajemen. Investor hanya akan terlibat dalam pembuatan keputusan strategis.

Sementara itu, investor pada perusahaan investor banyak yang masuk dalam manajemen dan ikut serta mengontrol bisnis.

Baca juga: Apa itu Decacorn? Pengertian dan Bedanya dengan Unicorn

2. Proses Pendanaan

Hal selanjutnya yang membedakan badan usaha konvensional dan perusahaan startup adalah proses pendanannya.

Pendanaan perusahaan konvensional biasanya hanya datang dari satu sumber dan akan digunakan terus untuk ke depannya.

Di sisi lain, pihak pendanaan perusahaan startup adalah founder atau pemiliknya. Namun, seiring dengan agenda pengembangan bisnis, founder akan mencari investor untuk pendanaan lebih lanjut.

3. Tujuan Perusahaan

Dilihat dari tujuannya, perusahaan startup dan konvensional tentu berbeda. Perusahaan startup lebih berfokus untuk mengembangkan bisnis dan pasarnya.

Sementara itu, perusahaan konvensional lebih berfokus untuk membangun strategi mendapatkan profit atau keuntungan atas usahanya.

4. Siklus Hidup Bisnis

Perbedaan selanjutnya antara badan usaha konvensional dan perusahaan startup adalah siklus hidup bisnisnya.

Meski belum lama berdiri, perusahaan startup bisa mencapai nilai milyaran. Namun, masih belum ada jaminan untuk kelangsungan bisnisnya di masa yang akan datang.

Hal ini berkebalikan dengan perusahaan konvensional, di mana bisnisnya cenderung lebih stabil, meski harus membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai nilai dan profit tinggi.

Contoh Perusahaan startup di Indonesia

Sebelumnya, telah disebutkan bahwa terdapat banyak perusahaan startup di Indonesia, dan bergerak di berbagai macam bidang.

Adapun beberapa contoh perusahaan startup adalah sebagai berikut:

1. Traveloka

Contoh perusahaan startup yang pertama, yaitu Traveloka. Perusahaan ini menyediakan layanan untuk membeli tiket transportasi umum, seperti pesawat, kereta, dan juga bus.

Tidak hanya itu, perusahaan rintisan ini juga menyediakan layanan untuk pemesanan treatment kecantikan, dan juga booking hotel.

Baca juga: Mengenal Perusahaan Go Public, Keuntungan, & Syaratnya

2. Ruangguru

Ruangguru adalah salah satu contoh perusahaan rintisan di bidang pendidikan. Perusahaan ini hadir untuk membantu siswa belajar.

Sebetulnya, Ruangguru mirip seperti bimbingan belajar pada umumnya, hanya saja berbasis online dan siswa bisa belajar di mana saja.

3. Gojek

Contoh selanjutnya yaitu GoJek, tentu Sobat OCBC NISP sudah tidak asing dengan perusahaan startup satu ini.

Berdiri sejak tahun 2010, GoJek hadir menawarkan layanan untuk memesan ojek motor atau mobil secara online.

4. HaloDoc

Salah satu perusahaan startup adalah HaloDoc yang bergerak di bidang kesehatan dan melayani telekonsultasi.

Melalui aplikasi HaloDoc ini, Sobat OCBC NISP bisa melakukan konsultasi dengan dokter terkait keluhan yang dirasakan.

5. Tokopedia

Tokopedia adalah e-commerce yang memungkinkan penggunanya untuk belanja berbagai kebutuhan secara online.

Tokopedia sendiri berdiri pada tahun 2009 dan kini telah berkembang hingga di kawasan Asia Tenggara.

Demikian uraian mengenai perusahaan startup mulai dari pengertian, ciri-ciri, sejarah, serta perbedaannya dengan badan usaha konvensional.

Kesimpulannya, perusahaan startup adalah badan usaha rintisan yang masih dalam pengembangan. Biasanya, perusahaan startup juga erat dengan penggunaan teknologi, sehingga memiliki website atau bahkan aplikasi digital untuk pelanggan agar mudah mengakses layanannya.

Nah, apabila Sobat OCBC NISP ingin mendapatkan informasi lain seputar ekonomi dan juga keuangan, silakan kunjungi OCBC NISP!

Baca juga: Agar Keuangan startup Minim Gejolak

Story for your Inspiration

Baca
OCBC

Edukasi - 20 Mei 2024

5 Hal Penting saat Online Shopping, Jangan Sampai Penipu Curi Saldo Rekening

Baca

Investasi - 17 Mei 2024

ST012 – Pilihan berharga untuk masa depan sejahtera, bersama lestarikan bumi kita

See All

Produk Terkait

Individu

Individu

Solusi perbankan OCBC siap bantu kamu penuhi semua aspirasi dalam hidup #TAYTB
OCBC mobile
ONe Mobile

OCBC mobile

Tumbuhkan uang dalam 1 aplikasi bersama OCBC mobile yang baru.
Nyala

Nyala

Dorong ambisimu untuk wujudkan kebebasan finansial, karena Tidak Ada Yang Tidak Bisa dengan Nyala OCBC

Download OCBC mobile