Di tengah pergerakan pasar saham yang semakin cepat dan dinamis pada 2026, istilah trading halt kembali sering menjadi perhatian investor. Apalagi ketika pasar mengalami penurunan tajam atau volatilitas ekstrem.
Banyak investor mendadak panik saat melihat perdagangan saham dihentikan sementara oleh bursa. Bagi investor pemula, kondisi ini sering menimbulkan rasa was-was.
Mereka kemudian bertanya-tanya, “Apakah pasar sedang crash? Apakah dana investasi aman? Apalagi banyak investor pemula mungkin belum tahu apa itu trading halt?
Trading halt bukanlah tanda pasar berhenti total atau investasi hilang. Mekanisme ini dirancang untuk menjaga stabilitas pasar dan melindungi investor dari kepanikan berlebihan saat volatilitas meningkat drastis.
Untuk lebih jelasnya, mari kita bahasa apa itu trading halt secara lebih detail.
Apa Itu Trading Halt?
Trading halt adalah penghentian atau pembekuan sementara perdagangan saham karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan hingga batas tertentu.
Kebijakan ini ditetapkan untuk menangani kondisi darurat dan menjaga perdagangan efek agar tetap teratur, wajar, dan efisien. Lantas, berapa lama trading halt akan berlangsung?
Berdasarkan ketentuan Bursa Efek Indonesia yang berlaku sejak April 2025, penghentian sementara perdagangan dilakukan apabila IHSG mengalami penurunan yang signifikan dalam satu hari perdagangan, dengan ketentuan sebagai berikut:
- Perdagangan dihentikan selama 30 menit apabila IHSG turun hingga 8%.
- Perdagangan kembali dihentikan selama 30 menit apabila IHSG melanjutkan penurunan hingga 15%.
- Apabila IHSG turun hingga 20%, perdagangan dapat dihentikan sampai akhir sesi atau lebih lama sesuai keputusan OJK.
Otoritas Jasa Keuangan menggunakan istilah trading halt dan trading suspend yang sama-sama memiliki definisi sebagai penghentian atau pembekuan perdagangan saham sementara, namun dengan konsekuensi berbeda.
Ketika terjadi trading halt artinya seluruh pesanan yang belum dialokasikan (open order) akan tetap berada di dalam sistem perdagangan efek otomatis. Anggota bursa masih bisa menarik dan memodifikasi open order yang sebelumnya sudah ditetapkan.
Di samping itu, ketika terjadi trading suspend maka seluruh pesanan yang belum terealisasi (open order) akan ditarik secara otomatis sehingga anggota bursa tidak bisa melakukan modifikasi.
Trading suspend dan trading halt adalah kebijakan yang sudah disiapkan oleh BEI untuk mengatasi situasi darurat dan di luar dugaan. Misalnya, ketika terjadi panic selling pada Maret 2020 dan menyebabkan penurunan IHSG secara drastis.
Namun, trading halt adalah penundaan sementara perdagangan saham yang tidak hanya terjadi pada saat itu saja.
Ada beberapa situasi lain yang bisa memicu munculnya kebijakan tersebut, misalnya gangguan keamanan, politik, sosial, permasalahan remote trading, dan hal teknis lainnya.
Baca juga: Mengenal Hukum dan Cara Kerja Trading Forex Syariah
Cara Kerja Trading Halt
Trading halt adalah suatu kondisi penundaan perdagangan saham untuk sementara waktu yang disebabkan oleh beberapa hal.
Kondisi trading halt ini biasanya akan diumumkan oleh bursa efek untuk mencegah timbulnya kerugian pada investor.
Selama penghentian tersebut, bursa efek akan melarang terjadinya transaksi perdagangan saham tertentu dan tidak ada investor yang bisa membeli ataupun menjual aset mereka.
Pada beberapa kondisi, bursa efek juga bisa menghentikan keseluruhan proses perdagangan saham.
Perusahaan yang dihentikan proses perdagangannya bisa menginformasikan kepada bursa efek terkait perubahan signifikan dan berpengaruh pada harga saham.
Setelah itu, bursa akan menghentikan perdagangan dan perusahaan mengumumkan informasi tersebut kepada publik.
Dengan demikian, tidak ada kecurangan yang terjadi antara bursa efek dan pihak lainnya.
Setelah beberapa waktu berlangsung, trading halt dapat dihentikan dan saham bisa diperdagangkan kembali.
Baca juga: Apa itu Trailing Stop? Ini Cara Menggunakannya dalam Trading
Penyebab Trading Halt dan Dampaknya
Bursa sedang trading halt artinya memungkinkan proses open order akan dibatalkan dan hal ini bisa terjadi kapan saja dalam jangka waktu 24 jam. Perusahaan yang memiliki saham dan mengalami trading halt harus menghubungi bursa tempat perdagangan aset tersebut.
Misalnya, ketika perdagangan saham di perusahaan ABC mengalami trading halt karena sedang menunggu informasi terkait manajemen.
Dalam hal ini, mereka harus menghubungi bursa setidaknya 10 menit sebelum berita dirilis, sehingga proses trading halt bisa dilakukan secara tepat waktu.
Berita yang bisa mempengaruhi trading halt adalah informasi sangat penting terkait perusahaan.
Sehingga ketika perusahaan merilis berita penting, mereka cenderung melakukan trading halt untuk beberapa waktu.
Mengapa harus dilakukan trading halt? Hal ini bertujuan agar para pemegang saham melakukan analisis terhadap informasi tersebut dan memikirkan dampaknya.
Penyebab lain yang bisa memicu terjadinya trading halt adalah saat bursa berada pada posisi kurang yakin apakah sekuritas tersebut memenuhi standar pasar atau tidak.
Maka dari itu, untuk meyakinkan jawabannya mereka akan mengadakan trading halt agar bisa melakukan analisis lebih lanjut.
Contoh trading halt yang pernah terjadi adalah pada tanggal 9 November 2020. Saat itu, pasar saham NASDAQ (National Association of Securities Dealers Automated Quotations) memberlakukan trading halt pada saham Aptevo Therapeutics.
Hal ini disebabkan karena pergerakan harga saham APVO memiliki volatilitas yang terlalu ekstrem.
Sedangkan pada hari yang sama, NYSE (New York Stock Exchange) melakukan trading halt kepada saham Envista Holdings Corporation dengan alasan serupa.
Itulah penjelasan terkait pengertian trading halt, cara kerja, serta dampaknya bagi investor dan perusahaan.
Trading halt adalah sebuah kebijakan yang dilakukan oleh bursa untuk menghentikan perdagangan saham sementara waktu.
Kondisi ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, seperti untuk mengoreksi hal yang tidak seimbang, memperbaiki kesalahan teknis, pergerakan indeks terlalu cepat, dan lain sebagainya.
Pasar saham memang bergerak sangat fluktuatif. Sebagian investor mulai mempertimbangkan diversifikasi ke instrumen investasi lain yang lebih sesuai dengan profil risikonya, salah satunya Reksa Dana.
Salah satunya melalui produk Reksa Dana. Dana investasi akan dikelola oleh manajer investasi profesional sehingga investor tidak perlu memantau pergerakan pasar setiap saat secara mandiri.
Selain itu, tersedia berbagai pilihan Reksa Dana dengan tingkat risiko yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan finansial dan tujuan investasi. Salah satunya melalui OCBC mobile.
Beberapa keunggulan Reksa Dana di OCBC antara lain:
- Pembelian Reksa Dana dapat dilakukan secara digital melalui OCBC mobile
- Pilihan produk beragam sesuai profil risiko investasi
- Penempatan dana mulai dari nominal terjangkau mulai Rp 20Ribu
- Dapat memantau portofolio investasi langsung dalam satu aplikasi
- Tersedia fitur pembelian, pencairan, hingga switching produk secara praktis
- Terintegrasi dengan berbagai layanan finansial lain dalam satu aplikasi (financial superapps)
Dengan kemudahan akses dan pilihan produk yang lengkap, Reksa Dana dapat menjadi alternatif investasi untuk membantu menjaga keseimbangan portofolio di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.
Baca juga: Apa itu Margin Trading? Ketahui Syarat dan Perhitungannya