Banyak orang menganggap obligasi sebagai instrumen investasi yang aman dibanding saham. Hal ini tidak sepenuhnya salah karena obligasi umumnya menawarkan pendapatan tetap dan fluktuasi harga yang relatif lebih stabil.
Namun, apakah obligasi bisa rugi? Jawabannya adalah bisa. Meski dikenal sebagai instrumen dengan risiko lebih rendah, investasi obligasi tetap memiliki potensi kerugian yang perlu dipahami investor.
Risiko tersebut bisa berasal dari perubahan suku bunga, gagal bayar penerbit, hingga penurunan harga obligasi di pasar sekunder.
Menurut Otoritas Jasa Keuangan, obligasi adalah surat utang jangka menengah atau panjang yang dapat diperdagangkan dan berisi janji dari pihak penerbit untuk membayar imbal hasil serta pokok utang pada waktu yang telah ditentukan.
Karena itu, sebelum membeli obligasi, penting memahami bagaimana risiko obligasi bekerja agar keputusan investasi menjadi lebih bijak.
Baca Juga: Obligasi Pemerintah: Pengertian, Jenis, Risiko & Keuntungan
Apakah Obligasi Bisa Rugi?
Secara umum, obligasi memang cenderung lebih stabil dibanding saham. Namun, bukan berarti investasi ini bebas risiko.Kerugian obligasi dapat terjadi ketika:
- harga obligasi turun,
- penerbit gagal membayar kewajiban,
- investor menjual obligasi sebelum jatuh tempo,
- atau imbal hasil kalah dari inflasi.
Menurut Bank Indonesia, pergerakan suku bunga menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi harga obligasi di pasar. Karena itu, investor tetap perlu memahami risiko obligasi meski instrumen ini sering dianggap lebih aman.
Risiko yang Membuat Obligasi Bisa Rugi
Obligasi umumnya cocok bagi investor yang menginginkan pendapatan lebih stabil dibanding saham. Namun, instrumen ini tetap memiliki risiko sehingga investor perlu memahaminya.
Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan investor mengalami kerugian saat berinvestasi obligasi adalah:
Risiko Perubahan Suku Bunga
Salah satu risiko terbesar obligasi adalah perubahan suku bunga. Ketika suku bunga naik, harga obligasi di pasar sekunder umumnya akan turun.
Hal ini terjadi karena investor cenderung mencari obligasi baru yang menawarkan kupon lebih tinggi. Sebaliknya, saat suku bunga turun, harga obligasi lama biasanya naik karena kuponnya dianggap lebih menarik.
Kenapa Harga Obligasi dan Suku Bunga Berlawanan? Hubungan obligasi dan suku bunga bersifat terbalik.
Sebagai contoh, jika investor membeli obligasi dengan kupon 5%, lalu suku bunga pasar naik menjadi 7%, obligasi lama menjadi kurang menarik sehingga harga jualnya turun. Risiko ini paling terasa jika investor menjual obligasi sebelum jatuh tempo.
Risiko Gagal Bayar (Default Risk)
Apakah obligasi bisa rugi akibat penerbit tidak membayar utang? Ya. Risiko gagal bayar terjadi ketika penerbit obligasi tidak mampu membayar kupon maupun pokok utang sesuai jadwal.
Risiko ini lebih tinggi pada obligasi korporasi dibanding obligasi negara karena kondisi keuangan perusahaan bisa berubah sewaktu-waktu. Menurut lembaga pemeringkat seperti Pefindo, rating obligasi membantu investor menilai kemampuan penerbit dalam memenuhi kewajibannya.
Obligasi Negara Relatif Lebih Aman
Di Indonesia, Surat Berharga Negara (SBN) umumnya dianggap memiliki risiko gagal bayar lebih rendah karena pembayaran dijamin pemerintah sesuai peraturan perundang-undangan.
Namun, obligasi korporasi tetap perlu dipertimbangkan dan dianalisis lebih mendalam sebelum dibeli.
Risiko Likuiditas
Tidak semua obligasi mudah dijual kembali di pasar sekunder. Beberapa obligasi memiliki volume perdagangan yang rendah sehingga investor kesulitan mencari pembeli ketika ingin menjual asetnya.
Akibatnya, investor mungkin harus menjual obligasi dengan harga lebih murah dari harga beli. Obligasi perusahaan tertentu sering memiliki transaksi pasar yang lebih terbatas dibanding obligasi pemerintah.
Risiko Inflasi
Inflasi juga dapat membuat obligasi merugi secara riil. Jika tingkat inflasi lebih tinggi daripada kupon obligasi, daya beli hasil investasi akan menurun. Sebagai contoh, obligasi memberikan imbal hasil 5% per tahun, tetapi inflasi mencapai 6%, maka nilai keuntungan riil investor sebenarnya negatif.
Menurut data Badan Pusat Statistik, tingkat inflasi Indonesia dapat berubah mengikuti kondisi ekonomi dan harga kebutuhan pokok. Karena itu, investor perlu mempertimbangkan inflasi saat memilih obligasi jangka panjang.
Risiko Capital Loss
Capital loss terjadi ketika investor menjual obligasi dengan harga lebih rendah dibanding harga belinya.
Kondisi ini biasanya dipengaruhi oleh:
- kenaikan suku bunga,
- penurunan rating obligasi,
- atau perubahan kondisi pasar.
Namun, jika obligasi disimpan hingga jatuh tempo dan penerbit tidak gagal bayar, investor tetap akan menerima nilai pokok sesuai perjanjian.
Baca Juga: Obligasi Tanpa Kupon Adalah: Cara Kerja & Keuntungannya
Cara Mengurangi Risiko Investasi Obligasi
Meski obligasi memiliki risiko, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membantu meminimalkan potensi kerugian.
Pilih Obligasi Sesuai Profil Risiko
Investor konservatif biasanya lebih cocok memilih obligasi pemerintah karena risikonya relatif lebih rendah. Sementara investor dengan toleransi risiko lebih tinggi dapat mempertimbangkan obligasi korporasi dengan imbal hasil lebih besar.
Perhatikan Rating Obligasi
Sebelum membeli obligasi korporasi, cek rating dari lembaga pemeringkat seperti Pefindo. Semakin tinggi rating obligasi, umumnya semakin rendah risiko gagal bayar.
Diversifikasi Portofolio
Jangan menempatkan seluruh dana hanya pada satu jenis obligasi. Diversifikasi membantu mengurangi dampak kerugian jika salah satu instrumen mengalami penurunan nilai.
Kombinasikan dengan Instrumen Lain
Investor juga dapat mengkombinasikan obligasi dengan deposito, reksa dana, maupun saham sesuai tujuan investasi dan profil risiko.
Pahami Tujuan Investasi
Jika tujuan investasi bersifat jangka panjang dan investor berencana menyimpan obligasi hingga jatuh tempo, risiko capital loss akibat fluktuasi harga pasar bisa lebih kecil.
Karena itu, penting memahami tujuan investasi sejak awal sebelum membeli obligasi.
Itulah pembahasan mengenai obligasi yang saat ini menjadi salah satu instrumen investasi yang digandrungi banyak orang. Meski obligasi dikenal lebih stabil dibanding beberapa instrumen investasi lain, memahami profil risiko dan memilih produk yang tepat tetap penting agar investasi berjalan lebih optimal.
Melalui layanan investasi obligasi dari OCBC, kamu dapat menemukan berbagai pilihan obligasi yang dapat disesuaikan dengan tujuan keuangan dan profil risiko investasi untuk membantu membangun portofolio yang lebih terencana.
Baca Juga: Mengenal Apa itu Obligasi Pemerintah Daerah dan Contohnya