Bunga obligasi menjadi salah satu faktor penting sebelum mulai investasi. Simak jenis bunga obligasi dan simulasi perhitungannya agar lebih mudah dipahami.
Obligasi adalah instrumen investasi berupa surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan, di mana investor akan mendapatkan imbal hasil dalam bentuk bunga secara berkala.
Dengan membeli obligasi, kamu pada dasarnya meminjamkan dana kepada penerbit dan akan menerima pengembalian pokok beserta bunga atau kupon sesuai jangka waktu yang ditentukan.
Adapun bunga obligasi atau yang sering disebut kupon adalah imbal hasil atau keuntungan yang diberikan kepada investor karena telah meminjamkan dana kepada penerbit obligasi, baik pemerintah maupun perusahaan.
Investor akan menerima pembayaran kupon secara berkala sesuai ketentuan yang berlaku, misalnya setiap bulan, tiga bulan, atau enam bulan sekali hingga masa jatuh tempo berakhir.
Baca juga: 8 Perbedaan Saham dan Obligasi, Ini yang Paling Untung!
Penentuan Bunga Obligasi
Pada dasarnya, bunga obligasi ditetapkan oleh penerbit obligasi (emiten) baik pemerintah maupun perusahaan. Namun dalam penetapannya, ada beberapa faktor yang menentukan.
1. Suku Bunga Acuan Pasar
Suku bunga acuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI) menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi besaran bunga atau kupon obligasi.
Ketika suku bunga acuan naik, penerbit obligasi biasanya perlu menawarkan kupon yang lebih tinggi agar instrumen mereka tetap menarik bagi investor. Sebaliknya, saat suku bunga turun, kupon obligasi baru akan lebih rendah.
2. Risiko Kredit Penerbit (Credit Rating)
Besarnya kupon obligasi juga dipengaruhi tingkat risiko dari pihak penerbit obligasi, baik pemerintah maupun perusahaan. Semakin tinggi risiko gagal bayar, semakin besar kupon yang ditawarkan untuk menarik minat investor.
Sebaliknya, obligasi dari penerbit dengan reputasi dan kondisi keuangan yang kuat cenderung menawarkan kupon lebih rendah karena dianggap lebih aman.
Oleh karena itu, peringkat kredit atau credit rating menjadi salah satu indikator penting yang diperhatikan investor sebelum membeli obligasi.
3. Jangka Waktu (Tenor)
Tenor atau jangka waktu obligasi juga mempengaruhi besaran bunga yang diberikan. Umumnya, obligasi dengan tenor lebih panjang menawarkan kupon lebih tinggi dibanding obligasi jangka pendek.
Hal ini karena investor harus “mengunci” dana lebih lama dan menghadapi risiko yang lebih besar selama periode investasi berlangsung.
Misalnya, obligasi dengan tenor 10 tahun biasanya memiliki kupon lebih tinggi dibanding tenor 2 atau 3 tahun. Imbal hasil tambahan menjadi kompensasi atas risiko waktu dan ketidakpastian kondisi ekonomi.
4. Kondisi Inflasi
Inflasi turut mempengaruhi tingkat bunga obligasi. Ketika inflasi tinggi, investor menginginkan kupon lebih besar agar nilai keuntungan yang diterima tidak tergerus kenaikan harga barang dan jasa.
Sebaliknya, saat inflasi relatif rendah dan stabil, penerbit obligasi cenderung tidak perlu menawarkan kupon terlalu tinggi.
Baca juga: 5 Jenis Pinjaman Bunga Rendah bagi yang Butuh Dana Cepat
Jenis-jenis Bunga Obligasi
Ada tiga jenis bunga obligasi, yaitu kupon tetap (fixed coupon), kupon mengambang (floating coupon), dan tanpa kupon (zero coupon bond). Berikut ulasannya.
1. Kupon Tetap
Kupon tetap adalah jenis bunga obligasi yang nilainya sudah ditentukan sejak awal dan tidak berubah hingga masa jatuh tempo. Artinya, investor akan menerima jumlah imbal hasil yang sama secara berkala selama obligasi masih berlaku.
Jenis obligasi ini cukup diminati karena memberikan kepastian pendapatan dan lebih mudah dihitung. Misalnya, jika obligasi memiliki kupon tetap 6% per tahun, maka investor akan terus menerima imbal hasil sebesar 6% meskipun kondisi suku bunga pasar berubah.
2. Kupon Mengambang
Kupon mengambang adalah bunga obligasi yang nilainya bisa berubah mengikuti pergerakan suku bunga acuan atau kondisi pasar. Jika suku bunga acuan naik, kupon obligasi juga berpotensi meningkat. Sebaliknya, jika suku bunga turun, kupon bisa ikut menurun.
Beberapa obligasi floating juga memiliki batas minimal (floor) sehingga kupon tidak akan turun di bawah angka tertentu. Jenis kupon ini dianggap menarik saat tren suku bunga sedang naik karena investor berpotensi memperoleh imbal hasil lebih tinggi.
3. Tanpa Kupon (Zero Coupon Bond)
Berbeda dengan obligasi pada umumnya, obligasi tanpa kupon tidak memberikan pembayaran bunga secara berkala kepada investor. Keuntungan investor berasal dari selisih harga beli dan nilai nominal obligasi saat jatuh tempo.
Biasanya, obligasi jenis ini dijual dengan harga lebih murah dari nilai nominalnya. Misalnya, investor membeli obligasi seharga Rp8 juta dan akan menerima Rp10 juta saat jatuh tempo. Selisih tersebut menjadi keuntungan bagi investor.
Baca juga: 10 Tips Persiapan Pensiun Sejak Muda agar Hidup Lebih Tenang
Simulasi Perhitungan Bunga Obligasi
Menghitung bunga obligasi sebenarnya cukup sederhana, terutama untuk obligasi dengan kupon tetap (fixed rate). Kamu hanya perlu mengetahui tiga hal:
- nilai pokok obligasi
- persentase kupon
- periode pembayaran bunga
Rumus sederhananya:
Bunga Obligasi = Nilai Pokok × Persentase Kupon
Sebagai contoh, kamu membeli obligasi senilai Rp10 Juta dengan kupon 6% per tahun, maka perhitungannya:
- Rp10.000.000 × 6% = Rp600.000 per tahun
Artinya, investor akan memperoleh bunga atau kupon sebesar Rp600 Ribu per tahun sebelum pajak. Namun jika pembayaran kupon dilakukan setiap bulan, maka:
- Rp600.000 ÷ 12 = Rp50.000 per bulan
Sementara jika kupon dibayar setiap 6 bulan, maka:
- Rp600.000 ÷ 2 = Rp300.000 per 6 bulan
Oleh karena itu, semakin besar nilai investasi dan persentase kupon obligasi, semakin besar pula potensi imbal hasil yang bisa diterima investor.
Baca juga: Redenominasi: Pengertian, Manfaat, Tujuan, Risiko dan Dampak
Cara Beli Obligasi
Sebelum membeli, pastikan kamu sudah mengetahui untuk apa kamu berinvestasi. Apakah untuk dana pensiun, pendidikan anak atau hanya ingin menyimpan uang dengan aman? Menentukan tujuan akan membantu kamu memilih jenis obligasi yang tepat.
Berikutnya, pilih bank yang menjual obligasi. Untuk obligasi pemerintah, daftar bank yang menjadi mitra distribusi tercatat di situs resmi DJPPR (Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko).
Salah satu bank yang menawarkan obligasi adalah OCBC. Selain Obligasi Pemerintah, OCBC juga menawarkan Obligasi Korporasi, FUTURES Contract, hingga Bond Repo. Pembelian obligasi di OCBC bisa dilakukan melalui aplikasi OCBC mobile.
Sebelum membeli obligasi, pastikan kamu sudah punya Single Investor Identification (SID). Kabar baiknya, kamu juga bisa membuat SID langsung di OCBC mobile, dengan cara sebagai berikut:
- Buka dan login OCBC mobile
- Pilih menu Investasi, klik Obligasi. Jika belum punya SID kamu akan diarahkan untuk membuat terlebih dulu
- Isi data diri dan lengkapi dokumen yang diminta
- Lengkapi profil risiko dengan jawab pertanyaan
- Klik Lanjut, dan SID akan diproses selama 3 hari
Setelah SID jadi, kamu bisa langsung membeli obligasi yang sesuai dengan profil risikomu. Berikut caranya:
- Buka dan login OCBC mobile
- Pilih menu Investasi, klik SBN Ritel
- Klik Pemesanan Obligasi, pilih obligasi yang kamu ingin beli
- Baca informasi produk, klik Pesan Sekarang
- Masukkan nominal pemesanan Periksa ringkasan, konfirmasi, dan setujui syarat dan ketentuan
- Pemesanan berhasil, tunggu notifikasi berikutnya.
Aplikasi OCBC mobile tidak hanya memudahkan kamu dalam melakukan transaksi harian seperti transfer atau pembayaran saja, melainkan juga membantu meraih #FUNanciallyFIT dengan pilihan investasi yang lengkap.
Kamu nggak usah khawatir soal keamanan. Pasalnya, transaksi di OCBC mobile juga sudah dijamin keamanannya.
Setiap transaksi dilindungi Two-Factor Authentication (2FA) dengan penggunaan User ID, Password, serta PIN transaksi yang hanya diketahui oleh kamu sebagai pengguna.
Download OCBC mobile sekarang juga untuk menikmati kemudahan transaksi apapun dalam genggaman!
Baca juga: 7 Karakteristik Obligasi yang Perlu Diketahui Investor