Berdasarkan data terakhir terlihat tingkat inflasi global telah mengalami penurunan dibandingkan posisi tertingginya di tahun 2022. Termasuk diantaranya inflasi Indonesia, yang sempat menyentuh level tertinggi di bulan September 2022 di angka 5,95% secara tahunan, dan di bulan Januari telah berada di level 5,28%. Turunnya tingkat inflasi tidak terlepas dari upaya bank sentral secara global yang telah melakukan pengetatan kebijakan moneter dalam setahun terakhir.
Dengan turunnya tingkat inflasi secara global, diperkirakan akan memberikan efek positif kepada aset pendapatan tetap atau obligasi. Turunnya inflasi akan mempengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral global, dari yang sebelumnya memandang diperlukannya pengetatan kebijakan moneter yang agresif, menjadi lebih moderat. Kondisi ini juga tercermin dari pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun dalam beberapa waktu terakhir, yang telah mengalami penurunan ke level 6,73% (per 15 Februari 2023) dari level tertingginya di bulan Oktober 2022 dilevel 7,67%.
Ke depannya, aset obligasi atau pendapatan tetap diperkirakan masih akan bergerak stabil, didukung dari beberapa faktor:
Dengan demikian akumulasi kelas aset obligasi atau pendapatan tetap dinilai baik untuk dilakukan, sebagai alternatif investasi bagi tipe investor dengan profil risiko rendah - menengah, yang menginginkan tingkat keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan produk keuangan konvensional seperti tabungan dan deposito.
Informasi lebih lanjut mengenai produk investasi di OCBC NISP, silahkan klik tautan berikut