Dengan turunnya tingkat inflasi secara global, diperkirakan akan memberikan efek positif kepada aset pendapatan tetap atau obligasi. Turunnya inflasi akan mempengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral global, dari yang sebelumnya memandang diperlukannya pengetatan kebijakan moneter yang agresif, menjadi lebih moderat. Kondisi ini juga tercermin dari pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun dalam beberapa waktu terakhir, yang telah mengalami penurunan ke level 6,73% (per 15 Februari 2023) dari level tertingginya di bulan Oktober 2022 dilevel 7,67%.
Ke depannya, aset obligasi atau pendapatan tetap diperkirakan masih akan bergerak stabil, didukung dari beberapa faktor:
- Perubahan arah pengetatan kebijakan moneter bank sentral global, yang menjadi lebih moderat.
- Jumlah penerbitan obligasi yang lebih terbatas, seiring upaya pemerintah Indonesia untuk menormalisasi defisit anggaran negara dibawah level 3%.
- Jumlah kepemilikan asing terhadap obligasi pemerintah Indonesia yang relatif rendah dikisaran 15%, jauh dibandingkan posisi sebelum terjadinya pandemi Covid-19 di kisaran 40%. Sehingga, dapat mendorong investor asing untuk kembali mengakumulasi obligasi milik pemerintah.
- Stabilitas nilai mata uang rupiah yang akan dijaga Bank Indonesia melalui serangkaian kebijakan, sehingga akan meningkatkan appetite investor asing terhadap instrument obligasi domestik.
- Real Yield atau selisih antara inflasi dan imbal hasil obligasi yang positif dan relatif lebih tinggi dibandingkan negara peers, membuat obligasi pemerintah Indonesia lebih menarik dimata investor asing.
Dengan demikian akumulasi kelas aset obligasi atau pendapatan tetap dinilai baik untuk dilakukan, sebagai alternatif investasi bagi tipe investor dengan profil risiko rendah - menengah, yang menginginkan tingkat keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan produk keuangan konvensional seperti tabungan dan deposito.
Informasi lebih lanjut mengenai produk investasi di OCBC NISP, silahkan klik tautan berikut