Akhir tahun 2023 di luar dugaan merupakan tahun yang penuh kejutan bagi para pelaku pasar.
Ketua Fed, Jerome Powell sendiri terdengar dovish pada pertemuan FOMC 13 Desember kemarin.
Ekspektasi akan dimulainya siklus pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS menjadi katalis positif, baik bagi pasar saham maupun pasar obligasi global.
Perubahan proyeksi laju kebijakan moneter The Fed sendiri dipengaruhi oleh beberapa hal, terutamanya inflasi AS yang semakin terkendali.
Di awal tahun ini, kenaikan laju inflasi AS berada di level 6.5% secara tahunan dan berdasarkan rilisan bulan November, angka tersebut telah turun jauh ke level 3.1% secara tahunan.
Selain dari sisi inflasi, tingkat pengangguran yang sempat naik ke level 3.9% juga menjadi salah satu alasan The Fed mempertimbangkan penurunan suku bunga acuan yang lebih cepat.
Melihat negara maju lainnya seperti negara – negara Eropa dan Inggris, hal yang serupa juga terjadi.
Inflasi Zona Eropa telah turun signifikan dari 9.2% ke 2.4% secara tahunan, dan di Inggris inflasi turun dari 10.5% ke 4.6% secara tahunan.
Dari segi pertumbuhan ekonomi global, mayoritas proyeksi ekonom dan para pelaku pasar di awal tahun 2023, mengantisipasi adanya resesi global terutama di negara maju seperti AS, Inggris dan Zona Eropa.
Resesi umumnya terjadi saat terjadi pertumbuhan ekonomi negatif secara dua kuartal berturut-turut.
Namun, yang terjadi adalah sebaliknya, dimana pertumbuhan ekonomi AS tetap bertahan cukup kuat.
Sementara itu, perekonomian China yang sempat menanjak kuat di awal tahun, saat membuka kembali perekonomiannya paska pandemi, ternyata justru mengalami perlambatan di pertengahan tahun.
Krisis sektor properti China, disusul oleh kesulitan pembayaran surat hutang para pengembang real estat China masih menjadi katalis negatif utama bagi perekonomian Asia Tenggara.
Sejumlah stimulus yang dirilis oleh Pemerintah China dalam hal suku bunga, relaksasi kredit di sejumlah kota besar, pengurangan biaya materai transaksi pasar saham, hingga pendanaan sektor infrastruktur melalui penerbitan obligasi pemerintah sebesar CNY 1 triliun, belum mampu mendorong kepercayaan investor akan prospek ekonomi China untuk jangka pendek hingga menengah.
Namun demikian, ekonomi global diprediksi akan semakin membaik tahun depan ditengah fase pelonggaran kebijakan moneter para bank sentral dunia.
Selain potensi pemangkasan suku bunga, sejumlah negara akan memasuki masa pemilihan umum, mulai dari Taiwan, Indonesia, India, hingga AS. Masa persiapan Pemilu secara historis mampu mendorong kinerja pasar saham.
Sehingga, prospek investasi pada pasar modal di 2024 diperkirakan akan lebih optimis.
Untuk membantu Anda mengoptimalkan keputusan investasi, Bank OCBC mengembangkan Wealth Discovery melalui aplikasi OCBC Mobile untuk membantu nasabah Premier merencanakan tujuan keuangan masa depan.
Fitur Wealth Discovery dapat diakses melalui menu “Life Goals”. Melalui Wealth Discovery, Anda dapat menghitung dan memonitor perkembangan dana Anda untuk mencapai tujuan masa depan melalui instrumen investasi. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan klik link berikut https://www.ocbc.id/id/individu/premier/layanan-premier/wealth-solution.