Perkembangan artificial intelligence (AI) belakangan ini bergerak sangat cepat. Berbagai inovasi baru bermunculan dan mempermudah banyak sisi kehidupan, mulai dari mencari referensi, menyusun jadwal hingga memvisualisasikan ide dalam hitungan detik.
Di balik kemudahan tersebut, terdapat risiko yang perlu kamu waspadai. Teknologi AI juga dapat disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan, termasuk yang mengatasnamakan bank atau program kartu kredit. Pelaku dapat membuat konten promosi palsu, meniru suara seseorang, bahkan membuat video seolah-olah seseorang sedang berbicara langsung tanpa memerlukan keahlian teknis khusus.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Indonesia Anti-Scam Centre (IASC), mencatat sekitar 274.772 laporan penipuan keuangan sejak akhir 2024 hingga 2025, dengan total kerugian mencapai Rp6,1 triliun. Angka tersebut terus meningkat, pada Januari 2026, laporan yang masuk telah mencapai lebih dari 432 ribu
Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Perbankan OJK, Indah Iramadhini menyampaikan secara tegas bahwa perkembangan infrastruktur digital yang mendorong inklusi keuangan di Indonesia menjadi sasaran penipuan berbasis AIl. Oleh karena itu, Lembaga Jasa Keuangan didorong menerapkan autentikasi berlapis, verifikasi liveness, dan deteksi anomali secara langsung sebagai bagian standar operasional, bukan sekedar fitur tambahan. Kementerian Komunikasi dan Digital (KemKomdigi) juga mencatat bahwa jumlah konten deepfake di Indonesia meningkat hingga 550% dalam 5 (lima) tahun terakhir.
Sebagai pengguna Kartu Kredit, penting bagi kamu untuk mengenali 2 (dua) modus penipuan berbasis AI yang marak terjadi saat ini agar kamu tidak menjadi korban berikutnya, yaitu:
1. Konten Promosi Palsu
Modus ini diawali dengan konten promosi yang terlihat meyakinkan, dilengkapi logo, warna, serta tipografi yang nyaris identik dengan konten resmi bank. Konten tersebut dapat dibuat dengan cepat menggunakan AI generative.
Bagaimana modus ini bekerja?
Pelaku biasanya membuat promosi yang menggiurkan misalnya penawaran penukaran promo reward yang menyasar data kartu kredit, diskon besar tiket pesawat atau penawaran bunga yang kecil dan jangka panjang, lalu menyebarkannya melalui Instagram, Facebook, TikTok, pesan WhatsApp, atau grup percakapan. Nasabah yang tertarik kemudian diarahkan untuk mengklik link dan “mendaftarkan” kartu kreditnya. Padahal, link tersebut diarahkan ke situs phishing yang yang dirancang untuk mengumpulkan data pribadi, seperti Nama, NIK, Tanggal Lahir, Nomor Kartu, Nomor CVV hingga OTP. Data diri yang diperoleh selanjutnya akan disalahgunakan untuk melakukan transaksi ilegal. Dalam modus lain, korban dapat diarahkan untuk mentransfer “biaya administrasi” agar pengajuan kartu kreditnya dapat “diproses”.
Cara membedakan promo asli dari yang palsu:
- Promo resmi OCBC hanya disampaikan melalui channel official seperti, aplikasi OCBC mobile, email resmi dari domain @ocbc.id, situs resmi ocbc.id, atau akun media sosial terverifikasi:
- Facebook: OCBC
- Instagram: @ocbc_indonesia
- Tiktok: @ocbc_indonesia
- Email: tanya@ocbc.id
- X: @Tanya_OCBC
- X: @OCBC_indonesia
- LinkedIn: OCBC Private Bank
- LinkedIn: OCBC Indonesia
- Waspadai tautan yang tidak mengarah ke domain resmi OCBC, terutama tautan yang menggunakan penyingkat URL (link shortener) atau domain yang tampak mirip, tetapi memiliki sedikit perbedaan.
- OCBC tidak pernah meminta kamu mengisi data sensitif, seperti PIN, OTP, CVV, atau password melalui formulir di luar aplikasi resmi untuk alasan apapun.
- Apabila ragu, jangan langsung mengeklik tautan, lakukan pengecekan terlebih dahulu melalui aplikasi OCBC mobile atau Tanya OCBC 1500 999.
Baca: Cara penipuan apply kartu kredit lainnya di sini
2. Deepfake: Modus di mana Suara dan Wajah Bisa Dipalsukan
Modus ini menggunakan teknologi deepfake. Deepfake merupakan teknologi AI yang dapat meniru wajah dan suara seseorang secara langsung, termasuk gerakan bibir, ekspresi, dan intonasi bicara. Pelaku hanya memerlukan rekaman suara atau video berdurasi beberapa detik untuk melatih AI agar menyerupai seseorang.
Pengertian mengenai Deepfake AI
Dengan teknologi ini, pelaku bisa melakukan panggilan telepon atau video call sambil berpura-pura menjadi petugas bank maupun pihak berwenang lainnya. Nasabah biasanya akan dihubungi secara tiba-tiba, kemudian diarahkan untuk melakukan “verifikasi” dengan cara yang tidak lazim, seperti memberikan OTP atau PIN, atau membuka aplikasi berbagi layar. Dalam kasus yang lebih ekstrem, nasabah dapat diminta mentransfer dana atau menyetorkan uang jaminan ke rekening tertentu.
Ciri-ciri yang perlu diwaspadai:
- Kamu dihubungi secara tiba-tiba oleh pihak yang mengaku sebagai petugas bank dan diminta melakukan verifikasi data, mentransfer dana, atau membuka aplikasi tertentu.
- Pelaku menggunakan kalimat-kalimat urgency atau penekanan agar segera bertindak, misalnya dengan pernyataan “harus segera” atau “akun akan diblokir apabila tidak segera diverifikasi”.
- Gerakan wajah atau suara terdengar tidak wajar, misalnya jeda yang aneh, ekspresi wajah terlihat datar, atau kualitas video tampak buram pada bagian tertentu.
- Kamu diminta melakukan hal yang tidak pernah diminta oleh bank resmi, seperti memberikan OTP atau PIN, atau melakukan transfer maupun setoran ke rekening tertentu.
Kerugian yang dapat terjadi:
- Ketika data diri dan data perbankan, termasuk informasi kartu kredit Anda dicuri, termasuk PIN dan OTP, maka dapat disalahgunakan penipu untuk transaksi ilegal termasuk mengambil alih akun perbankan digital Anda.
- Dana hilang karena sebagian besar korban akan diarahkan untuk melakukan transfer atau ke rekening pelaku dan biasanya sulit ditarik kembali.
- Data identitas yang dicuri dapat digunakan kembaliuntuk melakukan penipuan terhadap pihak lain.
Tips Agar Kamu Tetap Aman
- Jangan mudah percaya kepada pihak yang mengaku sebagai petugas bank melalui telepon atau panggilan video, meskipun terlihat menggunakan seragam resmi serta wajah dan suaranya terlihat atau terdengar meyakinkan. Teknologi deepfake bisa meniru keduanya.
- Jangan pernah membagikan PIN, password, OTP, atau CVV kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku sebagai petugas bank.
- Lakukan verifikasi ulang melalui saluran resmi OCBC sebelum mengambil tindakan apa pun, terutama yang berkaitan dengan permintaan data diri dan data perbankan Anda.
- Pastikan informasi promo hanya diperoleh melalui aplikasi, situs, atau akun media sosial resmi OCBC yang telah terverifikasi.
- Jangan mengklik tautan dari sumber yang tidak dikenal atau tidak terverifikasi, meskipun tampilannya terlihat meyakinkan.
- Aktifkan notifikasi transaksi pada aplikasi OCBC mobile agar kamu dapat segera mengetahui aktivitas mencurigakan pada kartu kreditmu.
- Apabila menerima panggilan mencurigakan, segera akhiri panggilan dan hubungi Tanya OCBC di 1500-999 untuk memastikan keasliannya.
Jika Kamu Menemukan Hal yang Mencurigakan:
Jangan ragu untuk segera melaporkannnya. Hubungi Tanya OCBC di 1500-999 untuk melakukan verifikasi atau melaporkan aktivitas mencurigakan yang mengatasnamakan OCBC. Selalu waspada dan pastikan kamu bertransaksi melalui saluran resmi OCBC!